Setelah berkulat dengan manusia-manusia penyesak jalanan itu, akhirnya sampai juga di Malioboro. Dan kita pun berjalan menyusuri pinggiran jalan malioboro layaknya pembolang yang lain, tak banyak obrolan penting, hanya candaan-candaan saja. Setelah beberapa meter jalan, tiba-tiba dia menyodorkan tangannya sambil berucap "Sini tanganmu pegang tanganku aja, biar gak hilang." Dan saat itu serasa ada aliran darah naik ke ubun-ubun. Dengan canggung akhirnya ku ulurkan juga tanganku. Lalu kitapun berjalan bergandengan tangan layaknya pasangan kekasih (walaupun bukan).
Perjalanan kita singgah di depan penjual ronde. Kita pun minum wedang hangat itu di pinggiran jalan Malioboro. Saat kita sedang menikmati hangatnya ronde, ada beberapa orang menghampiri kita dengan membawa beberapa bunga. Ngakunya sih mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan amal dengan cara menjual bunga, dan mereka memaksa Hendra buat beli bunga. Yang bikin sedih sih bukan Hendra nggak mau beli bunganya, tapi dia bilang ke mahasiswa-mahasiswa itu kalau dia pergi sama adiknya (aku).
Oke, kekecewaan itu nggak bertahan lama kok, karena habis itu datang seorang waria yang ngamen dengan entah lagu nggak jelas, tapi cukup ngena di kita karena tiap lirik di lagunya ditambah "ewer-ewer-ewer". Dan sampai kita pisah malam itu "ewer-ewer-ewer" tetap jadi tranding topic.
Lanjut, seusai minum ronde, kita pun kembali menyusuri Malioboro, dan entah kenapa jari-jarinya semakin erat di sela-sela jari-jariku. Setelah dirasa cukup bosan dengan jalanan Malioboro, kitapun akhirnya memutuskan untuk ke titik 0. Dan disana sangat macet, sangat sesakm sangat penuh manusia. Kitapun akhirnya memilih menyusuri jalanan dari altar ke alkid, dan disana masih tetap penuh manusia. Akhirnya, kita kembali ke titik 0, dan kita berjalan menuju Monumen Serangan 1 Maret. Hendra yang maniak Chelsea langsung melipir ke penjual stiker saat melihat ada ibuk-ibuk jualan stiker chelsea. Setelah tawar-menawar layaknya emak-emak diapun akhirnya membeli.
Next, kita masuk ke area monumen, lalu duduk di pinggiran monumen tersebut layaknya orang-orang yang lain. Dan entah karena terlalu lelah berjalan atau apa, refleks kepalaku bersandar di pundaknya. Sempet merasa agak nggak enak sih, tapi tiba-tiba dia balas menyandarkan kepalanya di kepalaku sambil berkata "Ngantuk ya?" dan aku hanya menggeleng.
Jam 10 datang, membuat kita akhirnya harus pulang, dan itulah saat dimana aku begitu membenci waktu yang berjalan begitu cepat mengoyak keakraban kami :(